Kisah Nabi Sulaiman dan pemuda yang berbakti kepada ibu bapa.

21 Mar

Nabi Sulaiman adalah anak kepada Nabi Daud A.S. Sejak kecil lagi Nabi
Sulaiman sudah pandai memberi pendapat yang adil dalam satu-satu hal.

Setelah wafatnya Nabi Daud, Nabi Sulaiman membesarkan kerajaan di bawah
pimpinannya.
Pada suatu hari, Nabi Sulaiman mengadakan perjalanan bersama rombongannya
yang terdiri daripada manusia dan jin. Tujuannya adalah untuk melihat
kebesaran Allah S.W.T.

Perjalanan mereka pun tiba di tepi laut, tiba-tiba Nabi Sulaiman terpandang
suatu benda yang menakjubkan di dalam laut. Dia memerintahkan pada jin
Ifrit, “Wahai Ifrit, cuba kamu lihat ke dalam laut, ada suatu benda yang
menakjubkan aku, oleh itu kamu bawakan ia kemari”.

Jin Ifrit yang sememangnya gagah tak banyak bercakap kerana takut akan murka
Nabi Sulaiman dan terus menyelam ke dasar laut, namun dia tidak berjumpa
apa-apa.

Kemudian Nabi Sulaiman menyuruh jin yang lain menyelam untuk mendapatkan
benda terbabit, namun malangnya jin tersebut pun gagal berbuat demikian.

Akhirnya Nabi Sulaiman pun berkata kepada Ashif bin Barkhiya, yakni orang
yang mendapat ilmu terus dari Allah, “Sekarang aku perintahkan kepadamu
agar pergi ke laut dan dapatkan benda ajaib yang aku maksudkan”.

Ashif bin Barkhiya pun menyelam dan terlihat suatu benda yang menyerupai
kubah yang diperbuat dari kapur putih.

Dengan kekuatan yang luar biasa, Ashif bin Barkhiya membawa naik kubah ajaib
tersebut dari dasar laut dan mempersembahkan kepada Nabi Sulaiman.

Apabila Nabi Sulaiman melihat kubah itu dan berkata, “Wah, alangkah
indahnya benda ini, tapi mengapakah aku tidak dapat melihat isi kandungan
dalam benda ini padahal Allah telah memberikan mukjizat yang mana
penglihatanku dapat menembusi segala sesuatu”.

Nabi Sulaiman pun berdoa kepada Allah supaya dia dapat melihat isi di dalam
kubah berkenaan dan Allah memperkenankan doanya. Sejurus selepas berdoa,
maka terbukalah kubah tersebut dan Nabi Sulaiman melihat ada seorang pemuda
yang sedang sujud dan bertasbih memuji Allah.

Nabi Sulaiman lalu berkata, “Maha suci Allah lagi Maha Besar”. Mendengar
seruan Nabi Sulaiman, maka pemuda itu pun bangun dari sujud lalu memberi
salam.

Nabi Sulaiman menjawab salam dan memulakan pertanyaan, “Siapakah kamu
wahai pemuda! Adakah kamu malaikat, jin atau pu manusia?” Jawab pemuda
itu, “Aku hanyalah seorang manusia biasa”.

Nabi Sulaiman bertanya lagi, “Apakah yang membuat kamu memperolehi
kemuliaan sedemikian rupa? Apakah amal yang pernah engkau kamu lakukan
sehingga Allah menurunkan rahmat dan berkah yang tidak ternilai ini kepada
kamu?” Pemuda itu berkata, “Saya berbakti kepada kedua ayah dan
ibuku”.

Nabi Sulaiman bertanya lagi, “Bagaimanakah kamu berbakti kepada orang
tuamu?”

Jawab pemuda itu, “Saya memelihara mereka berdua sehingga mereka lanjut
usia. Kedua ayah dan ibuku adalah orang yang soleh, mereka sangat takut dan
taat kepada Allah. Sejak saya kecil hingga dewasa, mereka memelihara saya
dengan baik sekali, mereka juga selalu mendoakan saya agar saya menjadi
seorang yang soleh. Bapa saya meninggal dunia dalam usia lanjut dalam
pemeliharaan saya dan yang tinggal hanya ibu saya yang sudah tua, lemah dan
sakit serta matanya buta dan kakinya lumpuh”.

Sambung pemuda itu lagi, “Saya satu-satunya orang yang merawat dan
menguruskan keperluannya. Saya selalu mengangkatnya untuk mandi dan saya
memandikannya. Segala urusan makan dan minum saya uruskan dan sayalah yang
menyuap makanan padanya. Ibu saya selalu mendoakan supaya saya dikurniakan
ketenangan dan kepuasan dalam hidup serta memberikan saya setelah wafatnya
sebuah tempat yang bukan di dunia atau pun di langit. Setelah ibu saya
wafat, saya berjalan-jalan di tepi laut dan saya lihat ada suatu kubah dari
mutiara. Saya mendekati kubat tersebut dan pintu kubah terbuka. Apabila saya
masuk ke dalam, pintu kubah ini tertutup, maka tidaklah saya ketahui sama
ada saya berada di bumi atau langit”.

Nabi Sulaiman bertanya, “Kamu hidup di zaman mana?” Pemuda itu menjawab,
“Saya hidup di zaman Nabi Ibrahim A.S”.

Nabi Sulaiman mengirakan umur pemuda tersebut dan dalam kiraannya umur
pemuda itu telah mencapai 14,000 tahun, tetapi tiada satu uban pun pada
rambutnya.

Nabi Sulaiman lalu bertanya, “Apakah tuan merasakan nikmat Allah?
Bagaimana Allah memberikan rezeki padamu dalam kubah ini?” Pemuda itu
berkata, “Setelah saya berada di dalam kubah ini, maka tahulah saya bahawa
Allah telah menciptakan syurga khusus buat saya”.

Nabi Sulaiman teringin sangat melihat syurga yang pemuda itu katakan.
Kemudian pemuda itu pun berdoa kepada Allah lalu suasana di dalam kubah yang
gelap tiba-tiba bertukar menjadi terang-benderang.

Terkejut Nabi Sulaiman sambil berkata, “Maha suci Allah seru sekian
alam”. Satu pemandangan yang tak ada di dunia ini terpampang di hadapan
Nabi Sulaiman dan rombongannya di mana terdapat pokok-pokok, kebun yang
indah, kolam air susu dan madu serta suara-suara yang merdu di dalamnya.

Pemuda itu berkata, “Jika saya lapar, saya makan bermacam-macam
buah-buahan yang pelbagai macam cita rasa, semua makanan yang saya ingin
akan tersedia dan kalau saya haus, akan tersedia pula bermacam-macam jenis
minuman yang paling lazat”.

Nabi Sulaiman bertanya lagi, “bagaimana kamu dapat mengetahui siang atau
malam?” Jawab pemuda itu, “Apabila terbit fajar maka kubah ini akan
menjadi putih dan apabila matahi terbenam kubah ini akan menjadi gelap”.

Kata pemuda itu lagi, “Cukuplah, sebab saat ini saya harus mengadap
kembali pada Allah untuk solat dan zikir, bertasbih dan mengsucikan serta
memuji kebesaranNya”.

Nabi Sulaiman dan rombongannya segera keluar dari kubah tersebut dan pemuda
itu berdoa kepada Allah, lalu tertutuplah kembali kubah itu. Nabi Sulaiman
termenung sejenak memikirkan peristiwa yang dilihatnya sebentar tadi dan
mengarahkan Ashif bin Barkhiya untuk membawa kubah tersebut kembali ke dalam
laut di tempat asalnya.

Setelah itu Nabi Sulaiman berkata kepada rombongannya, “Untuk pertama kali
aku menjumpai tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah, aku bersyukur
kepada Allah dan semoga bertambah iman dalam sanubariku. Maha suci Allah dan
segala puji bagi Allah dan aku bersaksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah,
Allah Maha Besar dan tiada daya dan kekuatan apa pun di dunia ini melainkan
dengan kehendak Allah S.W.T”.

Kepada semua pembaca, kasihlah kepada ibu bapa kita sementara mereka masih
ada di dunia dan kasihanilah mereka seperti mana mereka mengasihani kita
sewaktu kecil.

Fikirlah sejenak, apakah sumbangan kita terhadap keduanya? Apakah sudah
cukup kasih sayang dan perhatian kita untuk mereka? Sudah cukupkah bakti
yang kita lakukan semasa usia mereka lanjut dimamah usia?

Adakah kita ini tergolong dari golongan yang berbakti kepada ibu bapa?
Bersama kita renungkan dan kita amalkan, insyaAllah. Ingatlah, doa ibu bapa
terhadap anaknya adalah mujarab dan tiada hijab antaranya dengan Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: